Kasus Prita (Lanjut)

Bandung. sudah satu tahun, kasus Prita Mulyasari masih berlanjut baik secara perdata maupun pidana. Tapi akhir-akhir ini saya ikuti berita dari televisi, kabarnya RS OMNI International Hospital Alam Sutera Tangerang ingin menarik gugatan perdatanya. Selain itu pihak DEPKES juga akan membantu penyelesaian kasus ini dengan menjadi mediator antar dua pihak tersebut.

Saya pribadi sebenarnya juga agak bingung dengan kasus Prita ini, soalnya menurut yang saya lihat sepertinya yang selalu disorot adalah masalah surat elektronik yang di kirim oleh prita kepada beberapa temannya. Sedangkan berita mengenai detail tindakan medis yang diberikan oleh RS OMNI jarang bahkan tidak diberitakan oleh media.Apa karena detail tindakan medis yang telah terekam menjadi suatu bundle rekam medik tersebut bersifat rahasia untuk dipublikasikan oleh media masa?(kayanya emang ga boleh kali ya? hehehehe bukan pakar jadi ga berani ngomong banyak-banyak)

Tapi nanti saya coba tanya dari beberapa pakar yang mungkin akan memberi jawaban lebih jelas. Tapi biar teman-teman pembaca tau tentang detail e-mailnya, saya salin berikut ini email yang membuat Ibu Prita Mulyasari dituntut oleh RS OMNI.

From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
To:
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang 

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama anak-anak, lansia dan bayi. Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International.

Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat.  Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000,  saya diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap.  Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.  Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini.  Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky.  Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa.  Keesokan pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau keluarga pasien.  Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah.  Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya memintaketerangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya.  Satu boxlemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan.  Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.

Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara.  Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara.  Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr. Henky saja.  Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari.  Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.

Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali.  Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja.  Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain.  Tapi saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi (customer service coordinator) dan saya minta tanda terima.  Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis.

Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya. Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya ini tidak profesional samasekali.  Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi informasikan ke saya.  Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.  Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.

Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya.  Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.  Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya.  Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama.  Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua.  Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang. Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.  Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan merekadengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing, benar…. tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda.

Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

salam, 

Prita Mulyasari

Nah, e-mail diatas itu yang jadi heboh sampai sekarang. Harapan saya ada teman dari background rekam medik yang mau menyumbang pendapat tentang kasus ini. Terus terang saya kok ngga lihat peran perekam medik dalam kasus ini. Mungkin saya yang bener-bener ga ngikutin kali ya…. Wong kasusnya di Tangerang sedangkan saya di Bandung, ya jelas ngga tau persis ya…. hehehe. Maaf ya ngga ada maksud buat menjelek-jelekkan. Ok silahkan dikomentari.@pwh

4 Responses

  1. Ada beberapa hal yg dapat ditinjau dari kasus Ibu Prita. Ditinjau dari sisi rekam medis & ditinjau dari sisi hukum. Kalau ditinjau dari sisi rekam medis menurut saya jelas apa yang dilakukan oleh petugas medis di RS. Omni adalah sebuah kekeliruan dimana hasil pemeriksaan laborat awal yang membuat Ibu Prita menjadi rawat inap ada kekeliruan datanya. Dan Ibu Prita tidak diperbolehkan meminta data hasil laborat yang keliru tersebut. Dan seharusnya pihak RS.Omni meminta maaf atas kekeliruan tersebut. Juga beberapa tindakan medis yang seharusnya mendapatkan informed concernt / persetujuan tindakan terhadap Ibu Prita seharusnya diberikan penjelasan oleh petugas medis bila pasien menanyakannya.

    Dari sisi hukum pasal yang dituntutkan kepada Ibu Prita perlu disimak ulang. Yang dimaksud memberitakan kepada umum itu yang bagaimana. Apakah pemberitaan kepada teman-teman sendiri dapat dikategorikan sebagai pemberitaan kepada umum ? Bukankah pemberitaan kepada umum itu berarti pemberitaan kepada masyarakat yang dikenal maupun tidak dikenal ? Ada multi tafsir yang dapat timbul berkenaan dengan pemahaman “umum” tersebut. Kemudian mengenai pencemaran nama baik. Siapakah pribadi yang merasa dicemarkan ? Bukankah email Prita hanya menuliskan “inisial” saja terhadap beberapa dokter yang menanganinya ? Bisakah penulisan “inisial” ini dikategorikan sebagai pencemaran nama baik ?
    Beberapa pertanyaan yang masih membingungkan dalam dunia peradilan kita. Beberapa bunyi pasal yang masih dapat menimbulkan multi tafsir. Beberapa bunyi pasal yang masih menimbulkan kontroversi didalam menafsirkannya.
    Keputusan Pengadilan cukup membuat saya merasa prihatin akan penegakan hukum demi keadilan di negeri kita.

    Terima kasih

    • Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya dalam blog Medical Record ini. Kasus Ibu Prita M, ini memang sangat menarik untuk saya simak, karena menyangkut profesi saya sebagai perekam medik. Sayangnya saya merasa khilangan jejak dalam kasus ini karena tidak setiap saat engan detail saya mengetahui lanjutan persidangan. Saya benar-benar merasa penasaran apakah berkas rekam medik itu sempat dibawa ke pengadilan untuk dipelajari oleh Majelis Hakim? Mungkin Bung Catur mempunyai info tentang hal tersebut, beserta hasil persidangan waktu itu?
      Terima kasih sekali lagi. Dan untuk teman-teman sesama perekam medik, ayo mampir untuk ikut berbagi ilmu dan pengetahuan.

  2. Terima kasih moderator.

    Wah…., saya juga jarang mengikuti persidangan Ibu Prita. Namun salut dengan gerakan koin untuk Ibu Prita. Gerakan tersebut merupakan bukti yang cukup kuat didalam menilai siapa yang salah dan siapa yang benar.
    Prihatin dengan kondisi peradilan saat ini.
    Namun sekalipun berkas DRM Ibu Prita dibawa ke pengadilanpun pasti tidak ada dokumen laborat yang awal menunjukkan Ibu Prita harus rawat inap. Karena pihak Omni sudah menyatakan bahwa hasil laborat tersebut adalah salah dan sudah direvisi. Dan saya yakin pengadilan yang memvonis Ibu Prita dengan dakwaan pencemaran nama baik tak akan bergeming dengan kenyataan DRM yang ada. Karena dakwaan pencemaran nama baik sekalipun yang dicemarkan adalah suatu kenyataan, terdakwa akan dapat terkena vonis bersalah.
    Demikian menurut saya.

    Terima kasih

    • Terima kasih kembali untuk Bung Catur,
      Senang sekali rasanya ada yang mau berbagi analisa. Analisa anda mengenai berkas rekam medik Ibu Prita Mulyasari yang bila dibawa ke pengadilan tidak akan ditemukannya hasil pemeriksaan lab yang awal menggugah rasa keingin tahuan saya lebih lanjut mengenai peraturan revisi atau anulir terhadap suatu hasil pemeriksaan yang dianggap salah. Apa hasil yang salah tersebut langsung dimusnahkan tanpa ada persetujuan/ approval / catatan/ berita acara? Kita akan coba mencari tahu mengenai hal tersebut, karena hal tersebut tentunya menyangkut masalah administrasi.
      wassalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: